• Subscribe to my RSS
  • etnikom
  • Home
  • Profile
  • Program
    • Daily Program
    • Weekly Program
    • Insert Program
  • Event
    • Off Air
    • Agenda Program
  • Info
    • Tips
    • Jokes
    • Rate
  • Galeri
    • Crew
    • Event
  • Contact
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA WISATA. Tampilkan semua postingan
Rampak Beduk merupakan sajian instrumen berupa perkusi, yang ditingkahi suara bedug berbagai ukuran. Ada empat bedug diikat kain merah biru, yang dipukul oleh pemain yang berdiri di tengah. Di pinggirannya, kelompok musik menimpali dengan bedug berbagai ukuran. Sesekali suara terdengar dari mulut para pemainnya, mirip suara musik tiup. Namun, tak ada sajian instrumen tiup. Yang terdengar, suara harmonis antara bedug dan para vokalis tradisi saling menyahut. Seni Rampak Bedug khabarnya berawal dari kebiasaan penduduk berkeliling kampung sambil memukul bedug kala sahur di bulan puasa. Yang kemudian dijadikan ajang untuk beradu keras memukul bedug. Alhasil terjadilah pertemuan antar mereka, saling beradu kekuatan bedug. Tari Rampak Beduk Banten dimainkan oleh secara masal. Rampak Bedug berasal dari kata Rampak atau kompak yang berarti sama, gerakannya sama, pukulannya sama. Asal muasal rampak bedug ini yaitu pada jaman dahulu ketika masyarakat kampung akan menunaikan ibadah sholat, sebelum adzan salah seorang dari mereka memukul-mukulkan media yang bunyinya nyaring dan keras misalnya kentongan sebagai tanda waktu sholat tiba. Namun ternyata bunyi kentongan ini sering disalah tafsirkan oleh masyarakat setempat, karena bunyi kentongan ini bisa juga diartikan adanya maling yang masuk ke kampung, nah supaya bisa membedakannya maka diciptakanlah bunyi yang suaranya tidak menyerupai kentongan namun masih nyaring dan keras yaitu bedug. Lambat laun, ternyata masyarakat kampung sangat gemar sekali dengan suara dan pukulan bedug ini, mereka silih berganti menabuh bedug ketika waktu sholat tiba. Melihat hal tersebut akhirnya mereka mencetuskan suatu ide seni menabuh bedug dengan banyak orang yaitu rampak bedug, yang kala itu bernama bedug panjang, bedug yang disusun memanjang yang jumlahnya bisa 20 buah bedug. Dipukul secara bersama-sama dengan irama gerakan tertentu. Rampak Bedug ini bisa kita jumpai di sela sela kegiatan seremonial pejabat seperti HUT Kabupaten/ Kota di Propinsi Banten, atau untuk menyambut kedatangan pejabat tinggi.  Sampai sekarang rampak bedug ini masih eksis dan terus dikembangkan melalui perpaduan gerak tari dan alunan musik.
Bendrong Lesung merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Cilegon-Banten, yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun di masyarakat hingga saat ini. Awalnya kesenian ini merupakan tradisi masyarakat setempat dalam menyambut Panen Raya. Tujuannya untuk mengungkapkan kebahagiaan atas jerih payah yang dilakukan, dan yang telah membuahkan hasil. Dalam perkembangannya, Bendrong Lesung tidak hanya ditampilkan pada penyambutan Panen Raya, tetapi ditampilkan juga pada acara-acara pesta perkawinan atau upacara peresmian. Bendrong Lesung memadukan musik Lesung atau Lisung (tempat menumbuk padi) dengan musik lainnya yang dimainkan oleh beberapa orang. Sekilas memang tak ada yang istimewa dari alat musik yang digunakan. Semuanya serba kayu,dan bunyinya pun tuk tuk. Namun tata aturan dan semangat para wanita menimbulkan semangat tersendiri. Biasanya akan ada sekitar enam perempuan yang sibuk menumbuk padi sehingga menimbulkan suara suara yang khas dan enak didengar. Sementara mengingat alu yang digunakan sebagai alat pemukulnya maka enam perempuan itu pula yang mengelilingi kerumunan lesung dan memukul secara bergantian. Bendrong lesung memang ada sampai dengan hari ini  namun mengalami perubahan yang cukup drastis, karena yang memainkan hanya ibu ibu saja,sementara anak anak mereka hanya puas menonton. Jika hal ini tak dilestarikan dengan gerakan kebudayaan, maka bendrong lesung akan punah seiring usianya ibu ibu yang memainkan alat tersebut. Tentunya ini menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah dan penggiat kesenian.
Berlokasi di Kecamatan Kasemen, 10 Km dari pusat kota Serang, yang terdiri dari :
- Bangunan utama, ruang tambahan dan serambi masjid disisi utara.
- Tiyamah atau Paviliun
- Menara, yang berfungsi untuk kumandang adzan
- Komplek makam di sisi utara Masjid Agung Banten Lama

Menurut naskah kuno "Sejarah Banten", masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Sama seperti umumnya masjid-masjid sejenis di Nusantara, lahan masjid ini juga berbentuk persegi panjang, sementara atapnya memiliki desain tumpang lima. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap disisi utara dan selatan bangunan utama.

Bersebelahan dengan serambi utara ini pula terdapat komplek makam sultan-sultan Banten serta keluarganya. Seperti Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Disisi lain, yaitu di serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dll.

Tiyamah

Tiyamah merupakan paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid Agung. Paviliun dua lantai ini berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Tiyamah adalah paviliun yang difungsikan sebagai tempat rapat, dan acara-acara kajian Islami.


Menara
Menara ini terletak di halaman depan komplek Masjid Agung. Masyarakat setempat meyakini bahwa menara ini dirancang oleh Hendick Lucasz Cardeel, tetapi tanggal pembuatannya tidak diketahui dengan pasti. Berdasarkan naskah kuno : Journal van de Reyse "(De Eerste Scipvaart der Nederlanders naar Oost Indie Onde Cornelis de Houtman, 1595-1597); mengisyaratkan bahwa menara ini dibuat antara tahun 1595-1597.

Makam Sultan dan Kerabat Sultan

Komplek makam ini terletak di sisi utara bagian utama Masjid Agung. Di komplek pemakaman ini terdapat makam sultan dan anggota keluarga lainnya.
 

Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain.
Sejarah

Agama Islam diperkenalkan oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon pada 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuatan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajahan pedagang Belanda yang tergabung dalam Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).

Debus dalam bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali kali oleh orang lain. Atraksi atraksi kekebalan badan ini merupakan variasi lain yang ada dipertunjukan debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan hancur, mengunyah beling/serpihan kaca, membakar tubuh. Dan masih banyak lagi atraksi yang mereka lakukan.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Debus
Postingan Lama Beranda

01. Aliza :: Manusia Hina ::
02. Kimono :: Kembalilah ::
03. Achie :: Masih Perawan ::
04. Karen :: Cinta Aku Lagi ::
05. Coffee :: Cinta ::
06. Sayap Laki :: Jangan Pergi Cinta ::
07. Kamaya :: Bisa Sendiri ::
08. D'Bagindas :: Maafkan ::
09. BE5T :: Long Distance ::
10. Asbak Band :: Tak Terpilih ::

Serang Radio
Jl. Jend Sudirman Kota Serang Baru Blok E No.3
Serang - Banten (42118) | T/F [0254] 221973
Designed by etnikom
2011 Serang Radio All rights reserved.