• Subscribe to my RSS
  • etnikom
  • Home
  • Profile
  • Program
    • Daily Program
    • Weekly Program
    • Insert Program
  • Event
    • Off Air
    • Agenda Program
  • Info
    • Tips
    • Jokes
    • Rate
  • Galeri
    • Crew
    • Event
  • Contact
Tampilkan postingan dengan label SELEBRITIS. Tampilkan semua postingan
thumbnail
Tommy Kurniawan punya menu wajib saat berbuka puasa di bulan ramadan. Ia mengaku harus menyantap lontong isi oncom.

Tommy mengaku sangat menyukai makanan tersebut. Bahkan menurutnya berbuka puasa di mana pun, makanannya tetap lontong isi oncom.

"Kalau sahur apa saja tapi kalau buka puasa harus ada lontong isi oncom," katanya.

Sayang Tommy tak bisa menjelaskan kenapa makanan tersebut menjadi menu wajibnya selama berbuka puasa. Sang istri, Tania juga mengaku kebingungan.

"Nggak tahu tuh dia, dari dulu maunya itu saja kalau berbuka, nggak mau yang lain," tuturnya. ( dikutip dari detikhot )
thumbnail
Beberapa waktu lalu, Ayu Dewi meluangkan waktunya berbincang dengan detikHOT tentang kehidupan asmaranya dengan sang suami. Menurut Ayu, tak banyak perubahan yang ia rasakan semenjak keduanya mulai dekat dan berpacaran hingga kini menikah.

Sedikit mengenang, perempuan yang dipersunting oleh Regi Datau pada Juni 2012 itu menguraikan, yang terasa berbeda hanyalah cara berkomunikasi antara dirinya dengan Regi. 

"Paling, waktu ngobrolnya aja yang beda. Kalau pacaran kan telepon bisa 10 kali sehari," ujarnya. 

Meski ketika setelah menikah kebiasaan berkomunikasi lewat telepon tak lagi intens, ada cara lain yang ia lakukan untuk menjaga komunikasinya dengan sang suami tetap mesra. 

Ayu menuturkan, ia dan Regi kerap meluangkan waktu ngobrol berdua berbincang tentang berbagai hal. Biasanya hal tersebut dilakukan sembari keduanya bermain dengan buah hati mereka, Aqilah. 

"Kalau pasa nikah ngobrolnya pas dia pulang, jadi itu ngobrol ngalur ngidul terus main sama anak. Jadi kaya gitu gitu tuh terjadi sendirinya nggak direncanakan," papar Ayu. ( di kutip dari detikhot)
thumbnail
Letih, lesu, tak bersemangat sering dirasakan beberapa orang saat menjalani puasa. Tak ingin merasakan hal yang serupa, Teuku Zacky pun berbagi rahasia demi menjaga stamina tubuh selama bulan Ramadan.

"Setiap sahur minum Vitamin C. Istri saya selalu ngingetin. Itu saja sih sama air putih," ujar Teuku Zacku saat ditemui di kawasan Jaka Sampurna, Bekasi, beberapa waktu lalu.

Jika banyak selebriti yang mengurangi kegiatan selama bulan Ramadan, berbeda halnya dengan pria kelahiran 23 Januari 1983 itu. Ia mengaku, segudang kegiatan tetap ia jalani.

Meskipun begitu, Teuku Zacky tetap menjalani puasa. Dengan jadwal kegiatan yang full, bintang 'Obama Anak Menteng' itu pun berharap puasanya kali ini harus full juga seperti biasanya.

"Masih kerja. Puasa tahun ini full (kerjaan), luar biasa banget. Berkah. Di kantor lagi full banget. Dari bulan kemarin lagi hectic banget. Puasanya Insya Allah harus full lagi, ibadahnya harus baik lagi, ini waktunya memperbaiki ibadah," tuturnya. ( dikutip darri detikhot )
Hari Pahlawan 10 November tidak hanya untuk mengenang mereka yang gugur di medan perang. Hari Pahlawan juga berlaku bagi mereka yang berjasa bagi perkembangan budaya. Salah satunya untuk almarhum Benyamin Sueb. Di Hari Pahlawan ini, Kamis (10/11), artis serba bisa itu mendapat penghargaan Bintang Budaya Tertinggi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Penghargaan diberikan karena seniman asli Betawi itu sudah mendedikasikan hidupnya untuk berkarya di dunia seni. Setidaknya 53 film sudah ia bintangi, dan lebih dari 75 album musik sudah Benyamin hasilkan.

Benyamin yang bintangnya begitu bersinar pernah melewati lika-liku kehidupan yang tidak begitu manis. Ia pernah mencoba menjadi pilot, tapi dilarang orang tuanya. Dari situ ia justru pernah menjadi pedagang roti dorong, dan kernet bus. Namun, akhirnya darah seni menuntunnya menjadi salah satu bintang besar di Indonesia. Rentang waktu yang begitu lama dalam kiprahnya di dunia seni, membuat Benyamin mendapatkan banyak penghargaan, seperti Piala Citra pada Festival Film Indonesia.
Benyamin Sueb menjadi figur yang melegenda di kalangan masyarakat Betawi khususnya karena berhasil menjadikan budaya Betawi dikenal luas hingga ke mancanegara. Celetukan “muke lu jauh” atau “kingkong lu lawan” pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik yang merekam sekitar 300 lagu, 53 judul film serta menyabet dua Piala Citra ini.

Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.


Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai ‘imbalan’. Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.


Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin, yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat – menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.


Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan ‘alat musik’ itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.


Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi.


Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.


SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, “Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!” Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.


Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. “Tergantung kondisi,” kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.


Ia akhirnya menjadi pedagang roti dorong. Pada 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bus PPD, langsung diterima. “Tidak ada pilihan lain,” katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan Banteng – Pasar Rumput. Itu pun tidak lama. “Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu,” tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan.


Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bus PPD. Kabur, daripada diusut. Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.


Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ di antaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).


Dari berkesenian, hidup Benyamin (dan keluarganya) berbalik tak lagi getir. Debutnya Si Jampang, mengalir setelah itu Kompor Meleduk belakangan dinyanyikan ulang oleh Harapan Jaya, Begini Begitu (duet Ida Royani), Nonton Bioskop (dibawakan Bing Slamet) dan puluhan lagu karya Benyamin yang lain.


Tidak puas dengan hanya menyanyi, Benyamin lalu main film. Diawali Honey Money and Jakarta Fair (1970) lalu mengucur deras puluhan film lainnya. Seniman yang suka ‘mengomel’ bila melawak ini menjadi salah satu pemain yang namanya sering digunakan menjadi judul film. Selain Benyamin tercatat di antaranya Bing Slamet, Ateng, dan Bagio.


Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).


Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo’on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973.


Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film – di antara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975) – bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976). Sayang, usahanya mengalami kemunduran, dan PT Jiung Film dibekukan tahun 1979.


Benyamin tidak selalu menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang, ada proses dimana Benyamin “hanya” menjadi figuran atau paling mentok menjadi aktor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai “bintang film” lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Benyamin.


Dalam “berguru” dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik – seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah “komidi musikal” yang diotaki oleh Bing Slamet – Benyamin menjadi teman sang aktor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting.


Di film ini, sudah terlihat gaya “asal goblek” Benyamin yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Benyamin juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Benyamin tak dapat menahan tangisnya.


Dengan Sjuman Djaya, Benyamin diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973). Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap “asal goblek”.


Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan oleh Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Benyamin pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Benyamin menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra.


Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya – selain theme song-nya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja. Lagi-lagi Benyamin menjadi aktor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.


Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974. Film bergenre komedi horor itu “memaksa” Benyamin beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si aktor tiga zaman. Begitulah, meski beberapa kali pernah tidak “menjabat” sebagai aktor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.


Penyanyi Beneran


Tahun 1992, saat sibuk main sinetron dan film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) Benyamin mengutarakan keinginannya pada Harry Sabar, “Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran.” Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Inilah band dan album terakhir Benyamin.


“Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk. Coba saja dengar Ampunan,” jelas Harry, sang music director. “Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar,” imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas.


Di album ini, Benyamin menyanyi dengan “serius”. Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, di antaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.


Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika – saat menjenguk anaknya yang kuliah di sana – dia langsung komentar, “Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?”, dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.


Benyamin yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Ia bukan lagi sekadar sebagai tokoh masyarakat Betawi, melainkan legenda seniman terbesar yang pernah ada. Karena itu banyak orang merasa kehilangan saat dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa.


Dari pelawak yang pernah tampil dalam variety show Benjamin Show sambil tour dari kota ke kota sampai Malaysia dan Singapura ini muncul banyak idiom atau celetukan yang sampai kini masih melekat di telinga masyarakat, khususnya warga Jakarta. Sebut saja, aje gile, ma’di kepe, atau ma’di rodok, yang semuanya lahir dari lidah Benyamin.
Postingan Lama Beranda

01. Aliza :: Manusia Hina ::
02. Kimono :: Kembalilah ::
03. Achie :: Masih Perawan ::
04. Karen :: Cinta Aku Lagi ::
05. Coffee :: Cinta ::
06. Sayap Laki :: Jangan Pergi Cinta ::
07. Kamaya :: Bisa Sendiri ::
08. D'Bagindas :: Maafkan ::
09. BE5T :: Long Distance ::
10. Asbak Band :: Tak Terpilih ::

Serang Radio
Jl. Jend Sudirman Kota Serang Baru Blok E No.3
Serang - Banten (42118) | T/F [0254] 221973
Designed by etnikom
2011 Serang Radio All rights reserved.